Sunday, December 19, 2004

Dan mungkinkah aku dewasa

Ah sampai juga akhirnya
penghabisan luka, penghabisan segala derita
pada dunia, yang aku sendiri tak tau maknanya
mungkin ini buntu yang harus ada
pada jalan panjang tak bermakna

ataukah ini persimpangan yang memang ada
agar kita merasa makna
trus terang, aku tak berani berharap hadirnya

biarlah,
mungkin benar,
dewasaku adalah duka
dan banggaku adalah angkuh pada dunia,
akupun berharap, ini diriku apa adanya

namun kau bilang,
kerasnya batu kan sirna,
dengan hanya tetesan embun penyejuk sukma
dan kau datang sebagai teman,
tuk ingatkan maknaku
jangan membatu, atau kau kan merana

aku menolak kata jiwa,
aku ingin jadi batu saja
tapi batu yang lunak ketika air menyapa
selebihnya,
biarkan, biarkan batu itu tetap ada
memaknai duka yang memang harusnya ada
duka yang aku tak tau, sampai kapan aku menahannya

No comments: