~r~i~s~m~i~

Saturday, October 01, 2005

LARANGAN KERAS BERKATA DUSTA DAN AKHLAK-AKHLAK YANG BURUK SAAT MENGERJAKAN PUASA

Di ambil dari email di milis assunnah@yahoogroups.com, semoga bermanfaat

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata : Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan beramal dengannya, maka Allah tidak memerlukan orang itu untuk meninggalkan makanan dan minumannya (puasanya) “ [HR Al Bukhari]

Masih dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda : “ Allah berfirman: ‘Setiap amal anak Adam adalah untuk dirinya sendiri kecuali ibadah puasa*. Ibadah puasa adalah untuk-Ku dan Akulah Yang akan memberikan langsung pahala untuknya. Ibadah puasa itu laksana perisai.** Dan apabila salah seorang dari kalian berpuasa, maka janganlah ia berbuat rafats (berhubungan badan atau berkata tak senonoh) dan janganlah berbuat gaduh.***Dan jika ada orang yang mencacinya atau menyerangnya hendaklah ia katakan : ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa’. Demi Allah yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, bau mulut**** orang yang berpuasa lebih wangi di sisi Allah daripada aroma wangi minyak kasturi. Bagi orang yang berpuasa itu ada dua kegembiraan. Tatkala berbuka ia bergembira dan tatkala bertemu dengan Rabb-nya ia juga bergembira dengan ibadah puasanya’” [HR Al BUkhari dan Muslim]

*Yakni baginya pahala yang telah tertentu kecuali ibadah puasa, pahalanya diberi tanpa hisab sebagaimana disebutkan dalma riwayat Muslim
**Tirai yang menghalangi seseorang dari perbuatan keji dan dosa, dan dari situ menghalanginya dari Neraka
***Yaitu, berteriak-teriak
****Berubahnya aroma mulut karena lambung yang kosong dari makanan.

Masih dari Abu Hurairah radhiyallaaahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Puasa itu bukan hanya menahan diri dari makan dan minum sja. Tetapi puasa itu adalah menahan diri dari kata-kata yang tidak bermanfaat dan kata-kata kotor. Oleh karena itu, bila ada yang mencacimu atau menjahilimu, maka katakanlah kepadanya: ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa ! Sesungguhnya aku sedang berpuasa ‘” [Hadits shahih, diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dan al Hakim dengan sanad shahih]

Dan masih dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Berapa banyak orang yang berpuasa hanya mendapatkan lapar dan dahaga saja dari puasanya “ [Hadits shahih, diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Ahmad, Ad Darimi, al Baihaqi dan al Baghawi dalam Syarhus Sunnah dengan sanad shahih]

KANDUNGAN BAB

Ibadah puasa adalah wasilah (jembatan) menuju takwa sebagaimana yang Allah katakan : “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa “ (Q.S. AL Baqarah : 183)
Oleh karena itu, orang-orang yang benar-benar berpuasa yang meraih derajat yang tinggi dan diberi pahala tanpa hisab adalah orang yang mempuasakan seluruh anggota tubuhnya dari perbuatan dosa. Mempuasakan lisannya dari berbicara dusta, keji dan perkataan palsu. Mempuasakan perutnya dari makanan dan minuman. Mempuasakan kemaluannya dari bersetubuh. Jika ia berbicara, maka bicaranya tidak merusak ibadah puasanya. Jika ia berbuat, maka perbuatannya tidak merusak ibadah puasanya.

Puasa yang disyariatkan adalah mempuasakan seluruh anggota tubuh dari perbuatan dosa, mempuasakan perut dan kemaluan dari syahwat, makanan dan minuman. Sebagaiman halnya makanan, minuman dan syahwat dapat membatalkan puasa demikian pula dosa dapat memangkas pahalanya dan merusak buah dari ibadah puasanya hingga ia seolah-olah orang yang tidak berpuasa.

Pengharaman kata-kata palsu dan beramal dengannya, berbuat gaduh, mencaci, berbuat jahil dan bodoh serta perangai-perangai buruk lainnya atas orang yang berpuasa bukanlah berarti di luar puasa ia boleh melakukannya. Namun, maksudnya adalah larangan tersebut lebih ditegaskan saat ia berpuasa dan pengharamannya lebih keras atas orang yang berpuasa.

Jika perbuatan jahil dan bodoh itu dilakukan oleh orang lain terhadap orang yang berpuasa, maka janganlah ia membalasnya dengan perbuatan serupa. Namun, hendaklah ia menghadapinya dengan akhlak yang mulia dan selalu ingat bahwa ia sedang berpuasa dengan mengatakan: “Sesungguhnya aku sedang berpuasa”

Termasuk adab orang yang berpuasa apabila dicaci hendaklah duduk jika ia sedang berdiri. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “ Janganlah saling mencaci maki sementara kalian tengah berpuasa. Jika ada yang mencacimu, hendaklah katakan : “Sesungguhnya aku sedang berpuasa. Jika ia berdiri hendaklah ia duduk “ [Hadits shahih, diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dengan sanad yang shahih]


Diringkas dari ENSIKLOPEDIA LARANGAN Jilid 2 : Bab Puasa - Pustaka Imam Asy Syafi'i
Mausuu’ah al-Manaahiyyiys Syar’iyyah fii Shahiihis Sunnah an-Nabawiyah Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali Daar Ibnu ‘Affan Th. 1419 H